HTML

materi kuliah

Selasa, 27 Juli 2010

KTI GASTRITIS

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP DASAR MEDIS
1. Pengertian
Beberapa pengertian gastritis yaitu
a. Gastritis adalah penyakit radang pada lambung yang biasa dikenal orang sebagai penyakit maag, gastritis biasa bersifat akut dan kronis (http://www.info sehat.com 2010)
b. Gastritis adalah inflamasi pada mukosa gaster baik bersifat akut maupun kronik (Ovedoff Dafid, 2002, hal: 217)
c. Gastritis adalah suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau lokal ( Price, Sylvia Anderson 2005, hal : 422 )
2. Pembagian gastritis
Didasarkan pada manifestasi kliniknya gastritis dibagi menjadi dua yaitu :
a. Gastritis akut
1) Gastritis akut adalah suatu peradangan permukosa lambung dengan kerusakan – kerusakan erosi, erosif karena perlukaannya hanya bagian mukosa (Inayah Lin, 2004, hal : 57 )
2) Gastritis akut adalah inflamasi yang diakibatkan oleh diet yang sembrono karenaa terlalu cepat makan, makan makanan yang terlalu berbumbu atau mengandung mikroorganisme penyebab penyakit ( Brunner & Suddarth, 2002, hal: 1062 )
b. Gastritis kronik
1) Gastritis kronik adalah suatu peradangan bagian permukosa lambung yang menahun ( Inayah Lin, 2004, hal : 57)
2) Gastritis kronik adalah peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang berlangsung lama disebabkan oleh ulkus benigna atau malignaa dari lambung, atau oleh bakteri Helicobacter Pylori (Brunner & Suddarth, 2002, hal :1062 )
3. Anatomi dan Fisiologi sistem pencernaan
a. Anatomi
1) Mulut
Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas dua bagian yaitu:
a) Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang di antara gusi, gigi, bibir dan pipi.
b) Bagian rongga mulut/ bagian dalam, yaitu rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh tulang maksilaris, palatum dan mandibularis di sebelah belakang bersambung dengan faring.
2) Palatum, terdiri atas dua bagian yaitu:
a) Palatum durum ( palatum keras ) yang tersusun atas tajuk – tajuk palatum dari sebelah depan tulang maksilaris dan lebih ke belakang terdiri dari dua tulang palatum.
b) Palatum mole ( palatum lunak )terletak di belakang yang merupakan lipatan menggantung yang dapat bergerak, terdiri atas jaringan fibrosa dan selaput lender.Gerakannya dikendalikan oleh ototnya sendiri, di sebelah kanan dan kiri daari tiang fauses terdapat saluraan lender menembus ke tonsil.
3) Di dalam rongga mulut terdapat :
a. Gigi, ada dua macam :
1) Gigi sulung,mulai tumbuh pada anak – anak umur 6 – 7 bulan. Lengkap pada umur 2,5 tahun jumlahnya 20 buah disebut juga gigi susu, terdiri dari : 8 buah gigi seri dan 8 buah gigi geraham
2) Gigi tetap ( gigi permanen ) tumbuh pada umur 6 – 18 tahun jumlahnya 32 buah terdiri dari : 8 buah gigi seri ( dens insisivus ), 4 buah gigi taring (dens kaninus), 8 buah gigi geraham ( molare ) dan 12 buah gigi geraham ( premolare).
Fungsi gigi terdiri dari : Gigi seri untuk memotong makanan. Gigi taring gunanya untuk memutuskan makanan yang keras daan liat. Gigi geraham gunanya untuk mengunyah makanan yang sudaah dipotong – potong.
4) Lidah, terdiri dari otot serat lintang dan dilapisi oleh selaput
lendir, kerja otot lidah ini dapat digerakkan keseluruh arah
Fungsi lidah yaitu :mengaduk makanan,membentuk suara, sebagai alat pengecap dan menelan, serta merasakan makanan.
Lidah dibagi atas tiga bagian :
a. Radiks lingua = pangkal lidah
Pada pangkal lidah yang belakang terdapat epiglottis yang berfungsi untup menutup jalan nafas pada waktu kita menelan makanan, supaya makanan tidak masuk ke dalam jalan nafas.
b. Dorsum lingua = punggung lidah
Punggung lidah terdapat puting – puting pengecap atau ujung saraf pengecap
c. Apeks lingua = ujung lidah

5) Faring
Organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan (esophagus ), di dalamlengkung faring terdapat tonsil yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. Tonsil terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan,yakni di belakang rongga mulut dan rongga hidung, di depan ruas tulang belakang. Bagian ke atas bagian depan terhubung dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang bernama koana. Keadaan faring berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium.
Faring terdiri dari :
1) Bagian superior = bagian yang sama tinggi dengan hidung,
2) Bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut,
3) Bagian inferior = bagian yang sama tinggi dengan laring.
Bagian superior disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan faring dengan ruang gendang telinga.bagian media disebut orofaring, bagian iniberbatas ke depan sampai di akar lidah bagian inferior disebut laringofaring yang menghubungkan orofaring dengan laring.
6) Esophagus
Merupakan saluran yang menghubungkan faring dengan lambung, panjangnya kira – kira 25 cm, mulai daari faring sampai pintu masuk kardiak di bawah lambung.
7) Gaster ( lambung )

Gambar 1.1 Anatomi Lambung
Merupakan bagian dari saluran yang dapaat mengembang paling banyak terutama di daerah epigaster. Lambung terdiri dari bagian atas fundus uteri berhubungan dengan esophagus melalui orifisium pilorik, terletak di bawah diafragma di depan pankreaas dan limpa, menempel di sebelah kiri fundus uteri.
Bagian lambung terdiri dari :
1. fundus ventrikuli, bagian yang menonjol ke atas terletak sebelah kiri osteum kardium dan biasanya penuh berisi gas.
2. Korpus ventrikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada bagian bawah kurvatura minor.
3. Antrum pylorus, bagian laambung berbentuk tabung mempunyai otot yang tebal membentuk sfingter pylorus.
4. Kurvatura minor, terdapat di sebelah kanan lambung terbentang dari osteum kardiak sampai ke pylorus.
5. Kurvatura mayor, lebih panjang dari kurvatura minor, terbentang dari sisi kiri osteum kardiak melalui fundus ventrikuli menuju ke kanan sampai ke pylorus inferior gastrolinealis terbentung dari bagian atas kurvatura mayor sampai ke limpa.
6. Osteum kardiak,merupakan tempat esofaagus bagian abdomen masuk ke lambung, pada bagian ini terdapat orifisium pilorik.


Susunan lapisan dari dalam keluar, terdiri dari :
1) Lapisan selaput lendir, apabila lambung ini dikosongkan, lapisan ini akan berlipat – lipat yang disebut rugae.
2) Lapisan otot melingkar ( muskulus aurikularis )
3) Lapisan otot miring ( muskulus obliqus )
4) Lapisan otot panjang ( muskulus longitudinal )
5) Lapisan jaringan ikat/ serosa ( peritoneum )
Fungsi lambung secara ringkas sebagai berikut :
1) Menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan oleh peristaltik lambung dan getah lambung.
2) Getah cerna lambung yang dihasilkan yaitu :
a) Pepsin, berfungsi memecah putih telur menjadi asam amino (albumin dan peptone ).
b) Asam garam ( HCL ), berfungsi mengasaamkan makanan, sebagai anti septik dan desinfektan, serta membuat suasana asam pada pepsinogen sehingga menjadi pepsin.
c) Renin, berfungsi sebagai ragi yang membekukan susu dan membentuk kasein dari kasinogen ( kasinogen dan protein susu ).
d) Lapisan lambung yang jumlahnya sedikit memecah lemak menjadi asam lemak yang merangsang sekresi getah lambung.
b. Fisiologi lambung
Sekresi getah lambung mulai terjadi pada orang awal makan, bila melihat makanan dan mencium bau makanan, maka sekresi lambung akan terangsang. Rasa makanan merangsang sekresi lambung karena kerja saraf sehingga menimbulkan rangsangan kimiawi yang menyebabkan dinding lambung melepaskan hormon yang disebut sekresi getah lambung. Getah lambung dihalangi oleh sistem saraf simpatis yang dapat terjadi pada waktu gangguan emosional seperti marah dan rasa takut.
8) Usus Halus
Intestinum minor adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada pylorus dan berakhir pada seikum, panjangnya sekitar 6 m, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorpsi hasil pencernaan.
Usus halus di bagi ke dalam tiga bagian anatomi yaitu :


a) Duodenum
Disebut juga usus 12 jari, panjangnya sekitar 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri pada lengkungan ini terdapat pancreas. Bagian kanan duodenum ini terdapat selaput lender yang membukit disebut papila vateri. Pada papilla vateri ini bermuara saluran empedu ( duktus koledokus) dan saluran pancreas ( duktus wirsungi/ duktus pankreatikus ). Dinding duodenum mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar, kelenjar ini disebut kelenjar – kelenjar brunner, berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.
b) Yeyenum dan ileum
Yeyenum dan ileum mempunyai panjang sekitar 6 m. Dua perlima bagian atas adalah yeyenum dengan panjang sekitar 2 – 3 m dan ileum dengan panjang sekitar 4 – 5 m. Lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas dikenal sebagai masenterium.
Fungsi usus halus, terdiri dari :
a) Menerima zat – zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler – kapiler darah dan saluran – saluran limfe.
b) Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
c) Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida.
Di dalam usus halus terdapat kelenjar yang menghsilkan getah usus yang menyempurnakan makanan, yakni :
a) Enterokinase, mengaktifkan enzim proteolitik.
b) Eripsin, menyempurnakan pencernaan protein menjadi asam amino.
1) Laktase, mengubah lactase menjadi monosakarida.
2) Maltosa, mengubah maltosa menjadi monosakarida.
3) Sukrosa, mengubah sukrosa menjadi monoskarida.
9) Usus besar
Panjangnya sekitar 1,5 m, lebarnya 5 – 6 cm,berfungsi menyerap air dari makanan,empat tinggal bakteri, tempat feses. Usus besar terdiri atas beberapa segmen, yaitu :
a. Kolon asendens, panjangnya 13 cm,terletak di bawah abdomen sebelah kanan membujur ke atas dari ileum ke bawah hati. Di bawah hati membengkok ke kiri, lengkungan ini disebut fleksura hepatika, dilanjutkan sebagai kolon transversum.
b. Kolon desendens, panjangnya sekitar 25 cm, terletak di bawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bawah dari fleksur lienalis sampai ke depan ileum kiri, bersambung dengan kolon sigmoid.
c. Kolon transversum, panjangnya sekitar 38 cm, membujur dari kolon asendens sampai ke kolon desendens berada di bawah abdomen, sebelah kanan terdapat fleksura hepatika dan sebelah kiri terdapat fleksura lienalis.
d. Kolon sigmoid, merupakan lanjutan dari kolon desendens terletak miring, dalam rongga pelvis sebelah kiri, bentuknya menyerupai huruf S, ujung bawahnya berhubungan dengan rektum.
10) Rektum
Terletak di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan os sacrum dan os koksigis.
11) Anus
Bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rectum dengan dunia luar ( udara luar ). Terletak di dasar pelvis, dindingnya diperkuat oleh tiga spingter :

a. Spingter ani internus, bekerja tidak menurut kehendak.
b. Spingter levator ani, bekerja juga tidak menurut kehendak.
c. Spingter ani eksternus, bekerja menurut kehendak.
( sumber: Luhulima J.W Prof. dr. Diktat Anatomi Umum Perawat, 2002, hal: 88 ).
Fungsi utama pencernaan dari saluran gastrointestinal yaitu
1) Memecahkan partikel makanan ke dalam bentuk molekul untuk di cerna.
2) Mengeliminasi makanan yang tidak tercerna dan terabsorbsi dan produk sisa lain dari tubuh.
3) Proses pencernaan mulai dengan mengunyah,dimana makanan diperoleh ke dalam partikel – partikel kecil yang dapat ditelan dan dicampur dengan enzim pencernaan.
4) Lambung mensekresi cairan yang sangat asam dalam berespon atau sebagai antisipasi terhadap pencernaan makanan. Kontraksi peristaltik di dalam lambung mendorong isi lambungnya ke arah pylorus karena partikel makanan besar tidak dapat melewati spingter pylorus, partikel ini diaduk kembali ke korpus lambung. Dengan cara ini makanan di dalam lambung secara mekanis dicampur dan di hancurkan menjadi partikel lebih kecil dan memungkinkan makanan dicerna sebagian untuk masuk ke usus halus pada kecepatan yang memungkinkan absorbsi nutrisi efisien.
Fungsi motorik pencernaan lambung yang lebih spesifik dapat dilihat sebagai berikut :
a. Fungsi motorik
1. Fungsi reservoir
Menyimpan makanan sampai makanan tersebut sedikit demi sedikit dicernakan dan bergerak pada saluran cerna. Menyesuaikan peningkatan volume tanpa menambahkan tekanan dengan relaksasi reseptil otot polos, diperantarai oleh saraf vagus dan dirangsang oleh gastrin.
2. Fungsi mencampur
Memecahkan makanan menjadi partikel – partikel kecil dan mencampurnya dengan getah lambung melalui kontraksi otot yang mengelilingi lambung. Kontraksi peristaltic di atur oleh suatu irama listrik intrinsik dasar.



3. Fungsi pengosongan lambung
Diatur oleh pembukaan spingter pylorus yang dipengaruhi oleh viskositas, volume, keasaman, aktifitas osmotic, keadaan fisik, emosi, obat – obatan dan kerja. Pengosongan lambung diatur oleh faktor saraf dan hormonal.
b. Fungsi pencernaan dan sekresi
1) Pencernaan protein oleh pepsin dan HCL dimulai disini. Pencernaan karbohidrat dan lemak oleh amylase dan lipase dalam lambung kecil peranannya.
2) Simetris dan pelepasannya gastrin dipengaruhi oleh protein yang dimakan, peregangan antrum, alkalinisasi antrum dan rangsaangan vagus.
3) Sekresi faktor intrinsic memungkinkan absorpsi vitamin B dan usus halus baagian distal.
4) Sekresi mucus membentuk selubung yang melindungi lambung serta berfungsi sebagai pelumas sehingga makanan lebih mudah diangkut.


4. Etiologi
Secara umum penyebab gastritis adalah :
a. Perubahan pola makan, berbagai jenis makanan dilaporkan dapat mencetuskan serangan antara lain: buah yang asam, asinan serta makanan terlalu berbumbu.
b. Obat analgetik – anti inflamasi ( aspirin, antalgin, postan, silicylat, indometahacin, sulfonamide, steroid ). Golongan non – steroid anti inflammation Drugs ( NSAID ) ini dosis yang rendah sudah dapat menyebabkan keluhan pada mukosa lambung.
c. Alkohol dan nikotin rokok, karena nikotin akan mengurangi sekresi bikarbonat pancreas dan menghambat netralisasi dalam lambung ke dalam duodenum.
d. Stress, berhubungan dengan sistem parasimpatis yang berespon dengan meningkatnya hiperaktifitas lambung dan meningkatnya sekresi lambung.
Etiologi berdasarkan jenis gastritis :
a. Gastritis akut, dapat disebabkan oleh :
1) Refluks usus lambung
2) Bahan kimia misalnya lisol
3) Merokok
4) Obat analgetik anti inflamasi terutama aspirin
5) Alcohol dan endotoksin
6) Stress fisis yang dapat disebabkan dengan luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan, gagal pernapasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat.
b. Gastritis kronik
1) Ulkus lambung kronik
2) Imunologi
3) Anemiakekurangan besi idiopatik
4) Anemia penyakit Addison dan gondok
5. Insiden
Pada tahun 2006, di Indonesia terutama di Garut, gastritis merupakan penyakit saluran pencernaan yang menduduki peringkat kedua yang diderita oleh pasien dengan angka prevalensi yang sangat tinggi yaitu 151.833 pasien ( 14,8 pasien ), terutama disebabkan oleh pola makan yang buruk akibat rendahnya daya beli atau akibat stress dan perilaku yang emosional ( www.gafra.com).
Pada tahun 2005, di RSUD Blambangan Banyuwangi, gastritis menduduki peringkat ketiga dengan jumlah penderita405 pasien disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur (www.republika.co.id).


6. Patofisiologi
Zat iritasi yang masuk ke dalam lambung akan mengiritasi mukosa lambung. Jika mukosa lambung teriritasi ada 2 hal yang akan terjadi karena terjadi iritasi mukosa lambung sebagai kompensasi lambung. Lambung akan meningkat sekresi mukosa yang berupa HCO3, di lambung HCO3 akan berikatan dengan NaCL sehingga menghasilkan HCI dan NaCO3. Hasil dari penyawaan tersebut akan meningkatkan asam lambung. Jika asam lambung meningkat maka akan meningkatkan mual muntah, maka akan terjadi gangguan nutrisi cairan & elektrolit.
Iritasi mukosa lambung akan menyebabkan mukosa inflamasi, jika mukus yang dihasilkan dapat melindungi mukosa lambung dari kerusakan HCL maka akan terjadi hemostatis dan akhirnya akan terjadi penyembuhan tetapi jika mukus gagal melindungi mukosa lambung maka akan terjadi erosi pada mukosa lambung. Jika erosi ini terjadi dan sampai pada lapisan pembuluh darah maka akan terjadi perdarahan yang akan menyebabkan nyeri dan hypovolemik (http//askepasuhankeperawatan.blogspot.com
7. Manifestasi klinis
Secara umum manifestasi klinis gastritis yaitu :
a) Rasa nyeri di ulu hati akibat peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung.
b) Mual, kadang – kadang sampai muntah atau regurgitasi ( keluarnya cairan lambung secara tiba – tiba ).
c) Anorexia akibat peningkatan produksi HCL pada lambung melalui nervus vagel yang menyebabkan penurunan nafsu makan.
d) Rasa lekas kenyang akibat peningkatan produksi HCL pada lambung yang berlebihan sehingga menimbulkan perut terasa penuh.
e) Perut kembung, disebabkan karena adanya pelepasan gas dalam lambung.
Menurut jenis gastritis, manifestasi klinisnya adalah
a) Gastritis akut
Pasien biasanya mengalami ketidaknyamanan, sakit pada kepala, malas, mual dan anorexia, sering disertai dengan cegukan. Pada beberapa pasien bersifat asimtomatik ( Smeltzer Susane. C, 2002, hal: 1062 ).
b) Gastritis kronik
Gejala yang dirasakan yaitu nyeri pada ulu hati, anorexia dan nausea, nyeri seperti ulkus peptic, anemia dan nyeri tekan epigastrium, perut kembung, cairan lambung terganggu, kadar gastrin serum tinggi ( Inayah Lin, 2004, hal: 58 ).

8. Tes diagnostik
Berbagai macam penyakit dapat menimbulkan keluhan yang sama. Untuk memastikan penyakitnya selain dengan observasi langsung diperlukan beberapa pemeriksaan :
a. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih banyak ditekankan untuk menyingkirkan penyebab organic lainnya seperti pangkreatitis kronik, diabetes mellitus, dan lainnya. Pada dyspepsia fungsional biasanya hasil laboratorium dalam batas normal.
b. Radiologis
Pemeriksaan radiologist banyak menunjang diagnosis suatu penyakit di saluran makan. Setik – tdaknya perlu dilakukan pemeriksaan radiologist terhadap saluran makan bagian atas, dan sebaiknya menggunakan kontras ganda. Adapun beberapa pemeriksaan radiologis yang dianjurkan adalah:
1) Endoskopi ( Esofago –Gastro – Duodenoskopi )
2) USG ( Ultrasonografi )
Merupakan diagnostic yang tidak invasive, akhir – akhir ini makin banyaak dimanfaatkan untuk membantu menentukan diagnostic dari satu penyakit, apalagi alat ini tidak menimbulkan efek samping, dapat digunaakan setiap saat dan padaa kondisi klien yang beratpun dapat dimanfaatkan.
9. Penatalaksanaan medik
a. Penatalaksanaan non – farmakologis yaitu :
1) Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung.
2) Menghindari factor resiko seperti alcohol, makanan yang pedas.
3) Obat – obatan yang berlebihan, nikotin, rokok dan stress.
b. Penatalaksanaan farmakologis
Sampai saat ini belum ada pengobatan yang memuaskan terutama dalam mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dapat dimengerti karena proses patofisiologinya pun belum jelas. Obat – obatan yang diberikan meliputi antasid ( menetralkan asam lambung ) golongan anti koligernik ( menghambat pengeluaran asam lambung ) dan prokinetik ( mencegah terjadinya muntah ).






B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan proses dimana kegiatan yang dilakukan yaitu : mengumpulkan data, mengelompokan data dan analisa data. Data focus yang berhubungan dengan gastritis meliputi adanya nyeri perut, rasa pedih di ulu hati, mual kadang-kadang muntah, nafsu makan menurun, rasa lekas kenyang, perut kembung, rasa panas di dada dan perut, regurgitas (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba).
Berdasarkan KMB Vol.2, Hal 1063 data dasar pengkajian yang biasanya didapat pada pasien dengan gastritis adalah pasien mengeluh nyeri ulu hati, tidak dapat makan, mual dan muntah. Pada saat terjadi gejala, apakah sebelumnya mencerna makanan pedas, obat-obatan atau alkohol. Timbulnya gejala berhubungan dengan ansietas, stress, minum alkohol terlalu banyak atau makan terlalu cepat, mempunyai riwayat penyakit lambung sebelumnya, ada perasaan muntah darah atau tidak, timbul nyeri tekan abdomen, dehidrasi atau perubahan turgor kulit atau membran mukosa kering, dan bukti adanya gangguan sistemik dapat menyebabkan gejala gastritis.



2. Penyimpangan KDM
stress fisik


makan tidak teratur
konsumsi obat aspirin, alcohol


Adanya peradangan dan peningkatan asam lambung


Merangsang pengeluaran zat kimia
(bradikinin, histamine, serotin )


Rangsangan dihantarkan ke thalamus





Adanya gangguan fungsi mokosa merangsang medulla vomiting center
sbg barier


Menyebabkan iritasi mukosa lambung mual
karena peningkatan asam lambung dan muntah

anoreksia
Merangsang Medula stimulus nyeri
vomiting center kelemahan
fisik

mrangsang susunan saraf
Mual dan muntah otonom,mengaktifkan norephineprin intoleransi aktivitas


intake nutrisi tidak adekuat saraf simpatis terangsang untuk
mengakifkan RAS


REM menurun









3. Diagnosa Keperawatan
a. Ansietas berhubungan dengan pengobatan
b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan, anoreksia.
c. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual dan muntah.
d. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
e. Nyeri berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.

4. Rencana Keperawatan
Rencana keperawatan adalah tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan :
a. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Tujuan: Menunjukkan koping yang positif dan mengungkapkanpenurunan kecemasan,
Dengan kriteria :Menyatakan pemahaman tentang penyakitnya, pasien tampak rileks.




Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat kecemasan.





2. Berikan dorongan dan waktu untuk kecemasanmengungkapkan pikiran dan dengarkan semua keluhannya.

3. Jelaskan semua prosedur pengobatan.




4. Beri dorongan spiritual. 1. Mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan yang dirasakan klien, sehingga memudahkan dalam pemberian tindakan selanjutnya.
2. Klien merasa ada yang memperhatikan sehingga klien merasa aman dalam segala hal tindakan yang diberikan.

3. Klien memahami dan mengerti tentang prosedur sehingga mau bekerja sama dalam perawatan/ pengobatan.

4. Bahwa segala tindakan yang diberikan untuk proses penyembuhan penyakitnya, masih ada yang berkuasa menyembuhkannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat
Tujuan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan individu
Dengan kriteria: Menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi
Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Kaji asupan nutrisi klien











2. Berikan makanan sedikit demi tapi sering.


3. Buatlah pilihan menu yang ada dan izinkan pasien untuk mengontrol pilihan sebanyak mungkin.



4. Lakukan penimbangan berat badan 1. Malnutrisi adalah gangguan mental yang dapat menyebabkan depresi, agitasi dan mempengaruhi fungsi kognitif/ pengambilan keputussan perbaikan status nutrisi meningkatkan kemampuan berpikir dan kerja psikologis.

2. Dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makan terlalu banyak.

3. Pasien yang meningkat kepercayaan dirinya dan merasa mengontrol lingkungan lebih suka menyediakan makanan untuk makan.


4. Penimbangan berat badan secara teratur sebagai salah satu indicator untuk mengetahui status nutrisi.



c. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual, muntah.
Tujuan : Menyatakan pemahaman faktor penyebab dan perilaku untuk memperbaiki deficit cairan,
Dengan kriteria :Mempertahankan atau menunjukkan perubahan keseimbangan cairan, turgor kulit baik,membran mukosa lembab

Intervensi:
Intervensi Rasional
1. Awasi tekanan darah dan nadi, pengisian kapiler, status membran mukosa, turgor kulit.

2. Awasi jumlah dan tipe masukan cairan, ukur haluaran urin dengan akurat.





3. Diskusikan strategi untuk menghentikan muntah dan penggunaan laksatif/ diuretik.


4. Berikan/ awasi hiperlimentasi iv 1. Indikator keadekuatan volume sirkulasi perifer dan hidrasi seluler.


2. Pasien tidak mengkonsumsi cairan sama sekali mengakibatkan dehidrasi atau mengganti cairan untuk masukan kalori yang berdampak pada keseimbangan elektrolit.

3. Membantu pasien menerima perasaan bahwa akibat muntah dan atau penggunaan laksatif/ diuretik mencegah kehilangan cairan lanjut.
4. Tindakan darurat untuk memperbaiki ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.

d. Kurang pengetahuan tentang pelaksanaan diet dan proses penyakit
Tujuan : meningkatkan kesadaran tentang pelaksanaan diet
Kriteria : memiliki program pengobatan
intervensi
INTERVENSI RASIONAL
1.tentukan tingkat pengetahuan untuk memahami penyakitnya

2. kaji kebutuhan diet



3.yakinkan klien bahwa penyakit dapat diatasi
1.belajar lebih mudah bila dimulai bari pengetahuan klien


2. klien atau keluarga memerlukan bantuan dalam perencanaan untuk pola makan klien
3. meyakinkan klien dapat memberikan pengaruh positif pada perubahan perilaku

e. Nyeri berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung
Tujuan : Terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri
Dengan kriteria: Klien melaporkan terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri


Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Kaji skala nyeri, beratnya (skala 0 -10)

2. Berikan istirahat dengan posisi semi-fowler



3. Anjurkan klien untuk menghindari makanan yang dapat meningkatkan kerja asam lambung
4. Anjurkan klien untuk tetap mengatur waktu makannya
5. Observasi TTV tiap 24 jam


6. Diskusikan dan ajarkan teknik relaksasi
7. Kolaborasi dengan pemberian obat analgesic 1. Berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan.
2. Dengan posisi semi-fowler dapat menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang.
3. Dapat menghilangkan nyeri akut/ hebat dan menurunkan aktifitas peristaltik.

4. Mencegah terjadinya pedih pada ulu hati/ epigastrium.
5. Sebagai indikator untuk melanjutkan intervensi berikutnya.
6. Mengurangi rasa nyeri atau nyeri dapat terkontrol.
7. Menghilangkan rasa nyeri dan mempermudah kerjasama dengan intervensi terapi lain.

5. Implementasi
Implementasi keperawatan selalu mengacu kepada rencana asuhan keperawatan yang disusun sebelumnya pada tiap diagnosa keperawatan yang kemungkinan dapat terjadi.
6. Evaluasi
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan mencakup pencapaian terhadap tujuan apakah masalah teratasi atau tidak dan apabila tidak berhasil perlu dikaji, direncanakan dan dilaksanakan dalam jngka waktu panjang dan pendek tergantung respon klien dalam keefektifan intervensi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar