HTML

materi kuliah

Selasa, 27 Juli 2010

herpes simpleks

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elastis dan sensitif, bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks, ras dan juga bergantung pada lokasi tubuh.
Warna kulit berbeda-beda dari kulit yang berwarna terang (fair skin) pirang dan hitam, warna merah muda pada telapak kaki dan tangan bayi, serta warna hitam kecoklatan pada genitalia orang dewasa.
Demikian pula kulit bevariasi dalam lembut, tipis dan tebalnya; kulit yang elastis dan longgar terdapat pada palpebra, bibir dan prepusium, kulit yang tebal dan tegang terdapat di telapak kaki dan tangan dewasa. Kulit yang tipis terdapat pada muka, yang lembut pada leher dan badan dan yang berambut kasar terdapat pada kepala.
Kulit dapat dengan mudah dilihat dan diraba, hidup, dan menjamin kelangsungan hidup. Kulitpun menyokong penampilan dan kepribadian seseorang. Dengan demikian kulit pada manusia mempunyai peranan yang sangat penting, selain fungsi utama yang menjamin kelangsungan hidup juga mempunyai arti lain yaitu estetik, ras, indikator sistemik dan sarana komunikasi non verbal antara individu satu dengan yang lain.
Fungsi utama kulit adalah sebagai proteksi, dimana kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis seperti tekanan, gesekan, tarikan; gangguan kimiawi, ganngun yang bersifat panas dan gangguan infeksi luar terutama kuman/bakteri maupun jamur. Sebagai absorbsi, ekskresi, persepsi, pengatur suhu tubuh, (termoregulasi), membentuk pigmen, proses keratinisasi dan membentuk vitamin D.
Meski demikian kulit manusia tidak bebas dari hama (steril). Kulit steril di dapatkan hanya pada waktu yang sangat singakat setelah lahir. Bahwa kulit manusia tidak steril hal ini mudah dimengerti oleh karena pada permukaan kulit terkandung banyak bahan makanan (nutrisi) untuk pertumbuhan organisme, antara lain lemak, bahan-bahan yang mengandung nitrogen, mineral dan lain-lain yang merupakan hasil tambahan dari proses kreatinisasi atau yang merupakan hasil apendiks kulit. Oleh karena itulah sangat mungkin jika ada berbagai jenis bakteri dan virus yang dapat menimbulkan penyakit pada kulit salah satunya adalah virus herpes simpleks (virus herpes hominis) tipe I dan II yang dapat menyebabkan penyakit herpes simpleks pada kulit dan hal ini akan kita bahas lebih lanjut pada bab berikutnya.

B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan memperoleh gambaran tentang penyakit Herpes Simpleks.
b. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui definisi dari herpes simpleks.
2. Untuk mengetahui etiologi dari herpes simpleks.
3. Untuk mengetahui patofisiologi dari herpes simpleks.
4. Untuk mengetahui manifestasi klinik dari herpes simpleks.
5. Untuk mengetahui pengobatan dari herpes simpleks.
6. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari herpes simpleks.







BAB II
HERPES SIMPLEKS

A. Definisi
Herpes simpleks adalah infksi akut yang disebabkan oleh virus herfes simpleks (virus hominis) tipe I atau II yang ditandai oleh adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritomatosa pada daerah dekat mukokutan, sedangkan infeksi dapat berlangsung baik primer maupun rekurens.

B. Epidemiologi
Penyakit ini tersebar kosmopolit dan menyerang baik pria maupun wanita dengan frekuensi yang tidak berbeda. Infeksi primer oleh virus herves simpleks tipe I biasanya dimulai pada usia anak-anak, sedangkan infeksi virus herves simpleks tipe II biasanya terjadi pada dekade II atau III dan berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual.

C. Etiologi
Herpeks simleks disebabkan oleh herpes virus hominis, dengan diameter 100 nm. Virus herves homins merupakan virus DNA yang mempunyai dua tipe berdasarkan perbedaan struktur antigenik dan lokasi klinis (tempat predileksi) yaitu tipe I yang biasanya menyebabkan infeksi pada daerah labial dan non genital, serta tipe II yang biasany ditularkan melalui hubungan seksual.

D. Patofisiologi
Herves simpleks yang disebabkan oleh virus DNA menular masuk kedalam nukleus sel dan memanfaatkan media reproduksi sel untuk replikasinya sendiri. Bentuk herves ini diperoleh dari kontak yang dekat dengan anggota keluarga atau orang yang terinfeksi tanpa hubungan seksual. Penularan dapat melalui ciuman, sentuhan dan memakai handuk secara bersamaan.
Selam infeksi primer virus ini berjalan naik melalui saraf periver mencapai rudiks gangglia dorsalis, dimana virus akan berada dalam stadium dorman – herves progenetalis telah menjadi penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual yang terpopuler di USA. Herves ini menyebabkan tukak dan vesikel yang menyebabkan rasa nyeri dan terbakar.
Infeksi herpes rekurens dapat mengikuti infeksi primer dalam beberapa minggu, bulan atau tahun. Karena infeksi herpes awal dapat ringan, maka penderita bisa tidak menyadari bahwa dia sudah terkena infeksi primer. Bertahun-tahun kemudian, ketika infeksi rekuren timbul, bisa timbul salah dugaan terhadap pasangannya. Pada manusia, hanya 14% dari penderita herpes tipe I yang mendapatkan herpes rekuren, sedangkan 60% infeksi herpes tipe II menjadi rekuren. 98% dari herpes genetalis rekuren disebabkan oleh virus tipe II. ada banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya rekuren. Keadaan ini dapat dicetuskan oleh adanya demam, sinar matahari, ovulasi, dan trauma fisik.
Infeksi herpes dapat menimbulkan implikasi serius apabila terjadi pada mata, sekitar serviks, pada bayi baru lahir, atau pada individu yang kekebalannya tertekan. Infeksi herpes pada mata dapat menyebabkan keratitis herpetika. Dapat terjadi jaringan parut pada kornea atau bahkan perforasi kornea. Seorang wanita hamil yang menderita herpes genitalis aktif dapat menularkan virus tersebut pada bayinya pada waktu bayi tersebut melalui jalan lahir. Dapat terjadi ensefalitis berat pada bayi baru lahir dengan komplikasi retardasi mental dan kematian. Bedah caesar merupakn indikasi bagi wanita yang pada saat melahirkan menderita herpes genitalis.
Demikian pula apabila ibu atau orang yang bekerja pada tempat perawatan bayi memiliki vesikel herpes aktif pada bibirnya atau tangannya, bayi akan terinfeksi. Infeksi denga herpes tipe I dapat menyebabkan penyakit yang sama beratnya dengan infeksi herpes tipe II. infeksi herpes pada penderita yang sakit berat atau yang kekebalannya tertekan dapat menyebabkan terjadinya tukak kronik yang tidak menyembuh, herpes diseminata dan ensefalitis.
E. Manifestasi Klinik
Infeksi HVS ini berlangsung dalam 3 tingkat:
1. Infeksi primer
Tempat predileksi VHS tipe I di daerah pinggang ke atas terutama di daerah hidung dan mulut, biasanya di mulai pada usia anak-anak, kecuali inkubasi yang terjadi secara kebetulan, misalnya kontak kulit pada perawat, dokter gig atau pada orang yang sering menggigit jari (herpetic whitlow).
Infeksi primer oleh VHS tipe II mempunyai tempat predileksi di daerah pinggang ke bawah, terutama di daerah genital, juga dapat menyebabkan herpes meningitis dan infeksi neonatus.
Daerah predileksi ini sering kacau karena adanya cara hubungan seksual seperti orogenital. Kadang-kadang disebabkan oleh VHS tipe I sedangkan di daerah mulut dan rongga mulut dapat disebabkan oleh tipe II.
Infeksi primer berlangsung lebih lama dan lebih berat, kira-kira tiga minggu dan sering disertai gejala sistemik seperti demam, mlaise dan anoreksia dan dapat ditemukan pembesaran kelenjar getah bening regional.
Kelainan klinis yang dijumpai berupa vesikel yang berkelompok di tas kulit yang sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen, dapat terjadi krusta dan kadang-kadang ulserasi yang dangkal, biasanya sembuh tanpa sikatris.
2. Fase laten
Fase ini berarti pada penderita tidak ditemukan gejala klinis, tetapi VHS dapat ditemukan dalam keadaan yang tidak aktif pada ganggilon dorsalis.
3. Infeksi rekurens
Infeksi ini berarti VHS pada gangglion dorsalis yang tidak aktif, dengan mekanisme pacu menjadi aktif dan mencapai kulit sehingga memberi gejala klinis. Makanisme pacu itu dapat berupa trauma fisik (demam, trauma, infeksi, kurang tidur, hubunga seksual dan sebagainya), trauma psikis (gangguan emosional, menstruasi) dan dapat pula timbul akibat jenis makanan dan minuman yang merangsang (alkohol).
Gejala klinis yang timbul lebih ringan dari pada infeksi primer dan berlangsung kira-kira 7 sampai 10 hari. Sering ditemukan gejala prodormal lokal sebelum timbul vesikel berupa rasa panas, gatal dan nyeri. Infeks rekurens ini timbul pada tempat yang sama (loco) atau tempat lain/tempat disekitarnya (non loco).

F. Tes Dignostik
Diagnosis herpes biasanya ditegakkan berdasarkan anmnesis dan penampilan klinis. Diagnosis dapat diperkuat dengan melakukan biakan herpes, yang positif pada sekitar 80% penderita. Tes Tzank positif pada 50% sampai 80% penderita herpes. Pada tes ini bahan dari vesikel diletakkan pada gelas objek dan diwarnai dengan biru toilidin 1%. Dari hapusan yang diambil dari penderita herpes simpleks dapat terlihat sel-sel raksasa yang berinti banyak dan besar.

G. Diagnosis Banding
Pada herves simpleks di daerah sekitar mulut dan hidung harus dibedakan dengan invetigo vesiko bulosa. Pada daerah genitalis harus dibedakan ulkus durum, ulkus mole dan ulkus mikstum, maupun ulkus yang mendahului penyakit limfogranuloma venereum.

H. Pengobatan
Sampai saat ini belum ada terapi yang memberikan penyembuhan radikal, artinya tidak ada pengobatan yang dapat mencegah episod rekurens secara tuntas. Pada lesi yanbg dini dapat digunakan obat topikal berupa salep/krem yang mengandung preparat idokusurudin (stoxil, viruguent, viruguent-P) dengan cara aplikasi, yang sreing dengan interval beberapa jam. Preparat asiklovir (zovirax) yang dipakai secara topikal nampaknya memberikan masa depan yang lebih cerah. Asiklopir ini cara kerjanya menggangu replikasi DNA virus. Klinis hanya bermanfaat bila penyakit sedang aktif. Bila timbul ulserasi dapat dilakukan kompres.
Pengobatan oral berupa preparat asiklovir nampaknya memberikan hasil yang lebih baik, penyakit berlangsung lebih singkat dan masa rekuerensinya lebih panjang. Dosisnya 5 x 200 mg sehari selama lima hari. Preparat isoprinosin oleh sebagian penyelidik bukan diannggap sebagai obat antivirus, tapi sebagai imuno nodulator, efeknya ialah peningkatan imunitas seluler. Pengobatan parenteral dengan aksiklovir terutama ditujukan kepada penyakit yang lebh berat atau jika timbul komplikasi pada alat dalam. Begitu pula dengan preparat adenin arbnosid (vitarabin). Interferon sebuah preparat glikoprotein yang dapat menghambat reproduksi virus, juga dapat dipakai secara parenteral.
Untuk mencegah rekurensi macam-macam usah dilakukan dengan tujuan meningkatkan imunitas seluler, seperti pemberian preparat lupidon H (untuk VHS tipe I) dan lupidon G (untuk VHS tipe II) dalam satu seri pengobatan. Pemberian levamisol dan isoprinosin atau asiklovir secara berkala menurut beberapa penyelidik memberika hasil yang baik. Pamberian vaksinasi cacar sekarang tidak dianut lagi. Pada wanita dalam keadaan inpartu, jika terdapat lesi pada daerah vulva ada sebagian penyelidik yang menyukai dilakukakan pembedahan Cesaria untuk mencegah timbulnya infeksi neonatus sebesar 50 %.

I. Prognosis
Selama pencegahan rekurensi masih merupakan problem, hal tersebut secara psikologik akan memberatkan penderita. Pengobatan secara dini dan tepat memberi prognosis yang lebih baik, yakni masa penyakit berlangsung lebih singkat dan rekurensi lebih jarang.
Pada orang dengan gangguan imunitas seperti pada penyakit-penyakit dengan tumor di sistem Retikulo endocelial, pengobatan dengan imuno-supresif yang lama, atau fisik yang sangat lemah, infeksi ini dapat menyebar ke alat-alat dalam dan dapat fatal. Prognosis akan lebih baik dengan meningkatnya usia seperti pada orang tua.


























BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas klien
Nama : Tuan X
Umur : 35 tahun
Suku Bangsa : Bugis
Pekerjaan : Petani
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
2. Riwayata Kesehatan
a. Keluhan utama
Pada saat dilaksanakan observasi, klien mengeluh merasakan nyeri yang sangat hebat.
b. Riwayat kesehatan sekarang
P : Yang menyebabkan klien merasa nyeri adalah adanya vesikel
Q : Nyeri yang sangat hebat
R : Nyeri dirasakan pada daerah mulut
S : Nyeri yang dirasakan tergantung pada fase perjalanan penyakit
T : Nyeri yang hebat dirasakan pada saat terjadi infeksi primer
c. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Klien pernah menderita penyakit kulit..
Klien pernah berobat tapi tidak teratur.
Klien tidak pernah mendapat vaksinasi


d. Riwayat Kesehatan Sebelumnya
Klien pernah mendapat pengobatan selama sepuluh hari karena menderita penyakit kulit dengan jenis obat yang diberikan yaitu Asiklovir 200 mg oral lima kali sehari.
e. Kesehatan Keluarga
Tuan X mengatakan tahun 2001 ayahnya pernah menderita penyakit herpes simpleks tapi kemudian sembuh setelah mendapat pengobatan.
Genogram 3 generasi







Keterangan:
: Laki-laki : Hubungan Perkawinan
: Perempuan : Klien
: Meninggal : Pernah Menderita
: Tinggal Serumah



f. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Type rumah : Permanen
Status kepemimpinan : Pribadi
Luas : 12 x 8 meter
Atap rumah : Genteng
Ventilasi : Bagus
Cahaya matahari yang masuk : Banyak
Penerangan : Listrik
Lantai terbuat dari : Marmer
Persediaan air bersih : a. PDAM
b.Pengolahan air minum di
masak sampai mendidih
Pembuangan sampah : Di tempat sampah yang telah
disediakan .
Pembuangan air limbah : Dialirkan melalui selokan
didepan rumah terbuka dan
airnya lancar, bila hujan
tergenang.
Jamban/WC : WC berbentuk leher angsa
dialirkan ke bak.
4. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : Terdapat erithema pada kulit.
Palpasi : Terjadi peningkatan suhu tubuh karena demam.
perubahan tekstur kulit karena adanya vesikel.
Observasi : Tampak adanya erithema pada kulit.
tampak adanya vesikel/benjolan yang membuka.
Data dasar pengkajian pasien
• Aktivitas/Istirahat
Gejala :
Kelelahan umum dan kelemahan
Kesulitan tidur pada malam hari
Tanda :
Penurunan kekuatan, tahanan
Keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit
Gangguan massa otot, peribahan tonus
• Integritas ego
Gejala :
Masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecatatan
Perasaan tak berdaya/tidak ada harapan
Tanda :
Ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menarik diri, marah
• Makanan dan cairan
Gejala :
Kehilangan nafsu makan
Penurunan berat badan
Tanda :
Anoreksia, mual/muntah
• Nyeri/kenyamanan
Gejala :
Berbagai nyeri, Contoh vesikel yang mengenai daerah dada secara ekstrem sensitif untuk disentuh, ditekan, gerakan udara dan perubahan suhu
Tanda :
Berhati-hati pada area yang sakit
• Pernapasan
Gejala :
Terkurung dalam ruang tertutup, terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi)
Tanda :
Peningkatan frekuensi pernapasan
Pengembangan pernapasan tidak simetris (efusi pleura)
Tak perhatian, mudah terangsang yang nyata, perubahan mental
• Keamanan
Gejala :
Adanya fungsi imun yang terganggu
Tanda :
Kulit: Umum: Lesi yang tetap timbul berlangsung kira-kira 1-2 minggu
Vesikel yang berisi cairan jernih, kemudian menjadi keruh (berwarna abu-abu) dapat menjadi pustul dan kusta. Kadang-kadang vesikel mengandung darah
• Penyuluhan/pembelajaran
Pertimbangan Rencana Pemulangan:
DRG menunjukkan rerata lama perawatan : 7 hari
Memerlukan bantuan untuk pengobatan, aktivitas perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah.

B. Klasifikasi Data
1. Data subyektif
- Klien mengatakan merasa nyeri pada daerah mulut
- Klien mengatakan sering demam dan menggigil
- Klien mengatakan lemah dan cepat lelah
- Klien mengatakan malas makan
- Klien mengatakan badannya terasa panas
- Klien bertanya mengenai penyakit yang dialami
- Klien mengatakan merasa kurang percaya diri
2. Data Obyektif
- Klien tampak meringis
- Badan klien terasa hangat
- Klien nampak lemah dan letih
- Porsi makan tidak dihabiskan
- Klien nampak tidak ada selera/nafsu makan
- Berat badan turun
- Klien tampak gelisah
- Klien tampak malu dengan penampilannya

C. Analisa Data
NO Symptom Etiologi Problem
1.














2.


















3






















4.








5.













DS:
Klien mengatakan merasa nyeri pada daerah mulut
DO:
Klien tampak meringis









DS:
Klien mengatakan
sering demam dan
menggigil
Klien mengatakan
Badannya terasa panas
Klien mengatakan
lemah dan cepat lelah
DO :
Badan klien terasa hangat
Klien nampak lemah
Dan letih
DS :
Klien mengatakan
malas makan
DO :
Porsi makan tidak di
Habiskan
Klien nampak kurang
Selera/napsu makan
Berat badan turun






DS :
Klien bertanya
Mengenai penyakit yang dialaminya.
DO :
Klen tampak gelisah
DS:
Klien mengatakan merasa kurang percaya diri
DO:
Klien tampak malu dengan penampilannya




Infeksi primer

Peradangan

Nociseptor

Hipotalamus

Korteks serebri

Gangguan rasa nyaman
Dan nyeri



Infeksi Primer

Peradangan

Pyrogen endogen

Stimulasi di hipothalamus

Pergeseran set point

Gangguan rasa nyaman
Dan panas







Infeksi primer

Peradanagan

BMR 

Metabolisme tubuh
Meningkat

Kebutuhan nutrisi
Meningkat

Malas makan

Nutrisi kurang
Dari kebutuhan






Kurang informasi

Salah interpretasi
Informasi

Kurang pengetahuan




Infeksi primer

Pembentukan vesikel – vesikel berkelompok

Krusta

Kerusakan integritas
Kulit

Gangguan body
image
Nyeri














Panas












Kurang nutrisi





















Kurang pengetahuan
Tentang penyakit







Kerusakan integritas kulit


















D. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman panas berhubungan dengan proses peradangan.
2. Gangguan rasa nyman berhubungan dengan nyeri, ulserasi dan gatal
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
4. Gangguan body image berhubungan dengan integritas kulit.
5. Risiko terhadap kekambuahan.
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajang pada/salah interpretasi informasi dan keterbatasan kognitif.

E. Rencana Keperawatan
Adapun rencana keperawatan yang ditetapkan berdasarkan diagnosis keperawatan yang telah dirumuskan adalah sebagai berikut :
1. Gannguan rasa nyaman panas berhubungan dengan proses poeradangan..
Tujuan : Suhu tubuh normal dan klien merasa lebih nyaman.
Kriteria :
• Tidak ada menggigil atau gemetar
• Klien tampak lebih tenang
• Ekspresi wajah klien cerah

Intervensi Rasional
- Ukur suhu tiap 2 jam
- Berikan kompres hangat

- Berikan selimut tipis
- Atur ventilasi yang cukup

- Anjurkan minum air sebanyak 5-8
gelas/hari.
- Untuk mengetahui perubahan suhu
- Membuka pori-pori kulit
sehingga meningkatkan penguapan.
- Untuk meningkatkan evaporasi panas
- Menurunkan panas dengan prinsip radiasi.
- Untuk mengimbangi/mengganti cairan yang keluar akibat evavorasi.


2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan nyeri, ulserasi dan gatal
Tujuan : Pengurangan nyeri, rasa ulserasi dan gatal hilang.
Kriteria :
• Menyatakan tingkat nyeri menurun
• Tidak ada petunjuk non verbal tentang nyeri, ulserasi dan gatal.

Intervensi Rasional
- Kaji penyebab kulit terasa gatal dan nyeri yang dirasakan klien

- Anjurkan kompres jika ulserasi, jangan menggaruk jika gatal cukup diusap-usap.
- Alihkan perhatian klien saat nyeri menyerang.

- Kolaborasi pemberian aspirin dan
anlgetik. - Memperoleh data dasar dan
memudahkan dalam menentukan intervensi lebih lanjut
- Menghindari terwujudnya lesi yang
berulang akibat garukan yang memperburuk ulserasi.
- Mengalihkan perhatian dengan
mengajak berdiskusi diharapkan nyeri tidak dipersepsikan.
- Aspirin dan analgetik efektif untuk
mengontrol nyeri

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Tujuan : Menunjukkan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria :
• Nafsu makan kembali normal, porsi makan dihabiskan, berat badan dipertahnkan, dengan nilai laboratorium normal dan bebas tanda mal nutrisi

Intervensi Rasional
- Catat status nutrisi pasien pada penerimaan, catat turgor kulit, berat badan dan derajat kekurangan berat badan.
- Pastikan pola diet biasa, yang
disukai/tak disukai dan yang tidak disukai

- Awasi masukan / pengeluaran dan dan berat badan secara periodic.
- Selidiki : Anoreksia, mual, dan muntah dan catat kemungkinan hubungan dengan obat awasi frekuensi, volume, konsistensifeses.
- Rujuk keahli diet untuk menuntukan posisi diet


- Awasi pemeriksaan laboratorium,
contoh BUN, protein serum, dan albumin.
- Berikan antipiretik yang tepat - Berguna dalam mendefenisikan derajat/luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat.

- Membantu dalam mengidentifikasi
kebutuhan / kekuatan khusus. pertimbangan keinginan individu dapat memperbaiki masukan diet
- Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan.
- Dapat mempengaruhi pilihan diet dan mengidentifikasi area pemecahan masalah untuk meningkatkan pemasukan / pengguanaan nutrient.
- Memberikan bantuan dalam
perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet.
- Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan menunjukkan kebutuhan intervensi / perubahan program terapi.
- Demam meningkatkan kebutuhan metabolic dan juga komsumsi kalori

4. Gangguan body image berhubungan dengan kerusakan integritas kulit
Tujuan : Body image terpenuhi.
Kriteria :
• Mekanisme koping yang efektif
• Menyatakan penerimaan terhadap situasi diri.

Intervensi Rasional
- Observasi gangguan body image



- Dorong pasien untuk bertanya atau mengekspresikan wajahnya.
- Dengan pemahaman yang jelas
mengenai penyakitnya klien dapat beradapatasi dan membantu dalam melaksanakan perawatnnya.
- Dukungan akan membawa klien
mengenal dirinya dan membagi perasaan akan mengurangi ganggguan perasaannya serta menunjukkan bahwa pasien menerima pembelajaran.

5. Risiko terhadap kekambuahan.
Tujuan : Infeksi dapat dikontrol dan penyebarannya dapat dicegah

Intervensi Rasional
- Instruksikan klien agar mencuci tangan mereka setelah kontak dengan lesi.
- Anjurkan klien tidak melakukan
hubungamn seksual sampai lesi menghilang (Tipe II).

- Instruksikan kepada klien untuk
menghindari pemajanan terhadap sinar matahari.
- Instruksikan klien untuk memenuhi
pengobatan yang diberikan.
- Anjurkan klien untuk menjaga personal Higiene. - Menghindari kontaminsi atau
penyebaran kuaman melalui tangan
- Salah satu sumber herpes tipe II
melalui hubungan seksual dari penderita kelawan jenisnya, kontak dengan lesi.
- Sinar matahari menyebabkan
kekambuhan infeksi dan dapat menyebabkan terjadinya kanker kulit.
- Pengobatan yang tidak efektif potensial
terjadinya kekambuahan.
- Dengan personal higiene maka virus-virus atau kuam-kuman dapat dihilangkan dari tubuh dan mencegah kekambuhan ataupun terjadinya penyakit.

6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajang pada/salah interpretasi informasi dan keterbatasan kognitif.
Tujuan : Klien dapat menyatakan pemahaman proses penyaki/prognosis, dan kebutuhan pengobaatan.
Kriteria :
• Menjawab secara verbal pertnyaan yang diberikan tentang penyakitnya.
• Kooperatif dalam terapi & perawatan
• Bebas dari kebingungan

Intervensi Rasional
- Kaji kemampuan pasien untuk belajar, contoh tingkat akut, kelemahan, tingkat partisipasi, lingkungan terbaik dimana pasien tetap dapat belajar.
- Berikan intruksi dan informasi tertulis khusus pada pasien untuk rujukan contoh jadwal obat

- Identifikasi gejala yang harus
dilaporkan keperawat, contoh hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernapas, kehilangan pendengaran, vertigo.
- Jelaskan dosis obat, frekuensi
pemberian, kerja yang diharapkan dan alasan pengobatan lama. |Kaji potensial interaksi dengan obat / substansi lain.
- Jelaskan tentang efek samping obat : mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah
- Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan individu.

- Informasi tertulis menurunkan
hambatan pasien untuk mengingat sejumlah besar informasi. pengulangan menguatkan belajar.
- Dapat menunjukan atau pengaktifa ulang penakit atau efek obat yang memerlukan evaluasi lanjut.


- Meningkatkan kerjasama dalam
program pengobatan dan menjegah penghentian obat sesuai perbaikan kondisi pasien

- Mencegah keraguan terhadap
pengobatan sehingga mampu menjalani terapi























BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN

Herpes simpleks adalah infksi akut yang disebabkan oleh virus herfes simpleks (virus hominis) tipe I atau II yang ditandai oleh adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritomatosa pada daerah dekat mukokutan, sedangkan infeksi dapat berlangsung baik primer maupun rekurens.
Herpeks simleks disebabkan oleh herpes virus hominis, dengan diameter 100 nm. Virus herves homins merupakan virus DNA yang mempunyai dua tipe berdasarkan perbedaan struktur antigenik dan lokasi klinis (tempat predileksi) yaitu tipe I yang biasanya menyebabkan infeksi pada daerah labial dan non genital, serta tipe II yang biasany ditularkan melalui hubungan seksual.
Infeksi herpes simpleks ditularkan dari orang ke orang melalui hubungan langsung dengan daerah tubuh yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi walaupun tidak ada luka herpes yang terbuka. Lagi pula, sebagian besar orang dengan herpes tidak mengetahui dirinya terinfeksi dan tidak sadar dapat menyebarkannya.
Pengobatan baku untuk herpes simpleks adalah asiklovir dalam bentuk pil dua kali sehari. Ada versi asiklovir lain dengan nama valasiklovir. Valasiklovir dapat diminum sekali sehari, tetapi harganya jauh lebih mahal dibandingkan asiklovir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar